Tuesday, February 16, 2016

Nektar dan Madu

Nektar dan Madu

Nektar adalah senyawa komplek yang dihasilkan oleh kelenjar “necterifire” tanaman dalam bentuk larutan gula dengan konsentrasi yang bervariasi.

Komponen utama dari nektar adalah sukrosa, fruktosa dan glukosa disamping terdapat juga dalam jumlah sedikit zat-zat gula lainnya seperti maltosa, melibiosa, rafinosa serta turunan karbohidrat lain.


Zat-zat lain yang jumlahnya sangat sedikit juga terdapat seperti asam-asam organik, resin, protein, garam dan mineral. Konsentrasi gula nektar bervariasi, mulai dari 5 persen sampai 70 persen atau lebih, tergantung dari keadaan iklimnya, jenis tanaman serta faktor lainnya.

Sebelum nektar menjadi madu, ternyata harus mengalami empat tahap yaitu tahap yaitu tahap pengumpulan nektar dari tanaman dan proses pengubahan nektar menjadi gula invert yang kemudian dilanjutkan dengan pengurangan jumlah kandungan air dan pematangan madu di sarang lebah.

Pada saat lebah pekerja menghisap nektar dengan belalainya, maka terjadilah kontak antara nektar cairan saliva lebah yang mengandung enzim-enzim hidrolase dan terjadilah pemecahan gula.
Nektar yang dibawa lebah lapangan ke sarang ditukar dari mulut ke mulut beberapa kali, dan selama proses ini nektar diubah menjadi gula.

Disamping itu di dalam kantung madu (honey sack) ini terjadi pula pengurangan jumlah kandungan air hingga mencapai kandungan air kira-kira 40 persen.

Selama tahap pematangan terjadilah proses inversi nektar di dalam sarang, khususnya sel madu yang masih terbuka. Sementara proses inversi lanjutan terus berlangsung, terjadi pula penurunan kadar air.

Nektar mengandung air dari 40 sampai 80 persen karena itu kadang-kadang tiga perempat dari beratnya harus dikeluarkan/dibuang sampai menjadi madu. Hal itu dilakukan dengan cara mengankut setiap tetes nektardari satu ruang ke ruang lain sehingga sebagian air diteruapkan. Evaporasi atau penguapan air dari nektar dilakukan dengan cara pengipasan oleh sayap-sayap lebah. Seekor lebah mengibaskan sayapnya 26.400 kali setiap menitnya sehingga menghasilkan sirkulasi udara yang baik di dalam sarang.

Penurunan kadar air dalam sel madu terutama disebabkan oleh perbedaan tekanan uap air antara cairan bakal madu dengan udara luar. Perbedaan tersebu terutama disebaban karena bantuan kipasan sayap lebah yang dapat mengatur ventilasi sehingga kadar air turun sampai sekitar 15 – 20 persen. Kemudian sel madu ditutup dengan lilin yang dihasilkan dari bagian perut lebah.

Lebah pekerja disamping mengumpulkan netral juga mengumpulkan tepung sari yang menaburi seluruh tubuhnya dan kemudian menyimpannya di kantung-kantung tepung sari pada kaki-kaki belakangnya.
Tergantung dari jenis lebahnya, maka jumlah madu yang dipanen juga bervariasi. Masih lagi ditambah dengan faktor lain seperti musim dan keadaan bunga yang ada.

Lebah-lebah varitas unggul dapat menghasilkan madu lebih banyak, misalnya Apis mallifera liguistica dapat menghasilkan madu sampai 150 kg per tahun, sedang Apis indica hanya dapat menghasilkan 1 – 3 kg/tahun/koloni.

Pada musim basah, biasanya banyak bunga dan karena itu banyak nektar yang dapat dikumpulkan, sedang pada musim kering atau yang sering disebut musim paceklik bunga akan hanya sedikit madu yang dapat dikumpulkan.

Keadaan dan kondisi tersebut sangat mempengaruhi waktu panen. Dalam keadaan normal 1 – 3 bulan sejak dimulainya pengumpulan nektar oleh lebah, sudah dapat mulai dipanen. Pemanenan berikutnya dapat dilakukan setiap sebulan sekali, terutama pada waktu musim bunga dan musim basah.

Setiap orang pernah menyaksikan madu terbang mencari bunga, bahkan dapat terbang ke segala penjuru dari sarangnya untuk mengumpulkan nektar dari bunga. Untuk memproduksi seratus gram madu, seekor elbah harus mengunjungi sekitar satu juga bunga. Bila kantung madu sudah penuh, lebah kembali lagi ke sarangnya. Lebah dapat terbang dengan kecepatan 65 km per jam, kira-kira secepat kereta api. Bahkan bila lebah tersebut sedang mengangkut nektar sebanya tiga perempat berat badannya, ia masih dapat terbang pada kecepatan 30 km per jam.

Untuk memproduksi madu satu kilo saja, seekor lebah harus mengangkut muatan 120.000 sampai 150.000 kali. Andaikata saja jarak bunga dengan sarang sejauh 1,5 km, lebah tersebut harus terbang 3 km untuk tiap kali muatan, dan untuk 1 kilo gram madu akan ditempuh 360.000 sampai 450.000 km. Hal ini berarti 8,5 sampai 11 kali garis tengah bumi.

Madu yang telah dipanen adalah madu yang kadar airnya di bawah 20 persen, yaitu dengan ditandainya sel-sel madu, telah tertutup. Seperti yang akan diterangkan pada bab selanjutnya, madu yang mempunyai kadar air yang tinggi akan lebih mudah terfermentasi oleh ragi sehingga terjadi alkohol yaitu perubahan dari gula sederhana menjadi etanol.

Sumber: http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:D-0tdWLt2gQJ:tekpan.unimus.ac.id/wp-content/uploads/2013/07/MADU-JENIS-DAN-PENGGUNAANNYA.pdf+&cd=4&hl=id&ct=clnk&gl=id